Tips Lontar Jumroh dan Mabit di Mina

Tips Lontar Jumroh dan Mabit di Mina

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila.
Pada saat bertepatan dengan hari raya idul adha tanggal 10 Dzulhijah, jamaah haji setelah mabit di Muzdalifah, wajib melontar jumroh aqobah dengan 7 kerikil kecil di jamarot, selanjutnya bisa bertahallul awal dengan memotong rambut setelah melontar jumroh aqobah dan sudah diperbolehkan berganti pakaian ihram dengan pakaian biasa, tetapi larangan lain ketika sedang ihram tetap tidak boleh dilanggar, termasuk berkumpul antara suami istri.

umroh afi prima -  Tips   mabit dimina  -umroh dan haji info
umroh afi prima – Tips mabit dimina -umroh dan haji info
umroh afi prima -  Tips   mabit dimina  -umroh dan haji info
umroh afi prima – Tips mabit dimina -umroh dan haji info

Jamaah haji wajib mabit menginap atau berada di Mina pada tanggal 10 Dzulhijah malam, setidaknya sebelum waktu sholat mahgrib sampai setengah malam. Fasilitas di maktab tenda Mina relatip lebih baik jika dibandingkan dengan di Muzdalifah maupun di Arafah. Tenda di Mina merupakan tenda permanen yang dengan bahan berkwalitas dan tahan api. Dalam tenda ada stop kontak listrik, beberapa lampu yang cukup terang, AC pendingin ruangan, kadang juga ada kasur spon tipis, dapur umum, dan kamar mandi yang relatip bersih dengan petugas kebersihan. Kamar mandi perempuan dengan petugas perempuan terpisah dengan kamar mandi laki laki, namun jumlahnya sangat terbatas, dan jamaah harus sabar antri.

Jamaah haji keesokan harinya yaitu pada tanggal 11 Dzulhijah wajib melontar jumroh ula, wustha dan aqobah. Demikian pula pada tanggal 12 Dzulhijah jamaah haji juga wajib melontar jumroh ula, wustha dan aqobah. Setelah selesai jamaah haji yang berniat untuk nafar awal, sudah boleh meninggalkan Mina. Bagi Jamaah haji yang berniat untuk nafar awal tidak perlu menginap di Mina pada tanggal 12 malam, jamaah haji bisa meninggalkan Mina sebelum masuk waktu sholat mahgrib.

“Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya” [Al-Baqarah : 203]. Namun jika jamaah haji masih berada di Mina ketika sudah masuk waktu sholat mahgrib, jamaah haji harus tetap menginap atau berada di Mina pada tanggal 12 Dzulhijah malam sebagaimana jamaah haji yang berniat untuk nafar tsani, dan baru boleh meninggalkan Mina jika sudah melontar jumroh ula, wustha dan aqobah pada tanggal 13 Dzulhijah.

umroh afi prima -  Tips melontar jumrah di  mina -umroh dan haji info
umroh afi prima – Tips melontar jumrah di mina -umroh dan haji info
umroh afi prima -  Tips melontar jumrah di mina mekkah -umroh dan haji info
umroh afi prima – Tips melontar jumrah di mina mekkah -umroh dan haji info

Sekitar 3 sampai 4 juta jamaah haji dari seluruh dunia akan melempar jumroh aqobah pada tanggal 10 Dzulhijah sejak sebelum subuh sampai malam hari. Jamaah haji berdesakan untuk dapat segera menyelesaikan kewajiban melontar jumroh. Kondisi fisik yang lelah setelah wukuf dan mabit di Muzdalifah, sering berpengaruh pada emosi jamaah haji saat melontar jumroh dan mabit di Mina. Berikut Tips Lontar Jumroh dan Mabit di Mina yang insya’Allah bermanfaat :

  • Setelah dari Muzdalifah dan tiba di maktab tenda Mina, perhatikan lingkungan sekeliling, catatlah nomer maktabnya, lebih baik lagi kalau difoto, sehingga jika tersesat di Mina, bisa ditunjukkan ke petugas haji yang ada.
  • Jangan berangkat sendiri ketika akan melontar jumroh, berangkat bersama rombongan dan pembimbing agar tidak tersesat, usahakan untuk tetap bersama dengan rombongan sejak berangkat dari tenda Mina, apalagi ketika akan kembali dari jamarot menuju tenda maktab di Mina. Tetaplah dalam rombongan, jangan sampai terpisah
  • Pada waktu akan berangkat dari tenda Mina, jamaah haji akan berjalan kaki yang jauhnya sekitar 2 sampai 7 KM melalui terowongan muashim, ikuti semua petunjuk dari pembimbing saat akan melontar jumroh. Biasanya pembimbing mendapat informasi keadaan di jamarot dari petugas haji, sehingga ketika sampai di jamarot untuk melempar jumroh tidak terlalu padat dan tidak berdesak desakan dengan jamaah haji lainnya. Kepadatan dan saling desak desakan seringkali menyebabkan emosi meningkat dan tidak terkontrol, hilang kesabaran dan saling dorong yang juga dapat menyebabkan jatuhnya korban jamaah haji di Jamarot Mina ketika melaksanakan melontar jumroh
  • Ketika berada dipersimpangan jalan, perhatikan dan ikuti arahan dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang menempatkan petugas-petugas di simpul-simpul persimpangan jalan menuju melempar jumrah (jamarat). Petugas akan memandu arah jalan jamaah agar tidak terbawa atau tersesat ke jalur yang bukan diperuntukkan bagi jamaah Indonesia
  • Untuk menjaga keselamatan, hindari jam jam padat di jamarot. Jamaah haji dari Asia tengah dan Afrika biasanya melempar jumrah aqobah tanggal 10 Dzulhijah sekitar jam 8 sampai jam 12, dan pada hari berikutnya tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijah, sekitar jam 12 sampai jam 16. Oleh karena itu jamaah haji dari Indonesia sebaiknya menghindari ke jamarot pada jam jam tersebut untuk memberi kesempatan kepada jamaah haji dari negara lain, selain itu juga untuk menghindari jatuhnya korban jamaah haji karena terlalu padatnya lokasi dan jalan menuju tempat melontar jumroh.
  • Jangan membawa barang bawaan, kecuali tas cangklong tempat identitas haji, kantong kecil berisi kerikil untuk melontar jumroh, handphone, kamera dan gunting kecil untuk tahallul. Bisa juga membawa minuman dalam botol kecil. Tempatkan barang bawaan tas tenteng di dalam maktab tenda di Mina (jangan dibawa ke jamarot), jangan lupa dikunci/ gembok
  • Bacalah takbir sepanjang perjalanan sejak ketika mulai bergerak berangkat dan ketika berjalan kembali dari jamarot menuju tenda maktab Mina. “Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaaha illallahu wallaahu akbar Allaahu akbar wa lillaah ilhamd”
  • Ketika melontar jumroh, jangan berebut dengan jamaah lain, jangan bertengkar, jangan berbantah bantahan, jangan berkata kotor, jangan marah. Ucapkan takbir, dan berdo’a.
  • Setelah selesai melontar jumroh aqobah pada tanggal 10 Dzulhijah, jamaah bisa langsung tahallul awal dengan menggunting rambut. Jamaah haji yang sudah tahallul awal dapat berganti pakaian biasa, namun tetap tidak boleh melakukan larangan ihram, seperti berkumpul antara suami istri.
  • Apabila memungkinkan, setelah melempar jumroh aqobah, jamaah haji dapat ke Masjidil Harom untuk melaksanakan thawaf ifadhah mengelilingi kakbah/ baitullah, sa’i antara bukit shofa dan Marwa, serta menyempurnakan tahallul.
  • Jika tidak memungkinkan, jamaah haji kembali berjalan kaki ke maktab tenda untuk mabit di Mina. Gunakan waktu yang ada untuk istirahat di dalam tenda, karena besoknya tanggal 11 dan 12 Dzulhijah jamaah haji masih harus berjalan kaki lagi ke jamarot untuk melontar jumroh ula wustha dan aqobah
  • Karena dalam satu tenda maktab biasanya terdiri dari jamaah haji satu kloter dengan berbagai kebiasaan budaya dan kondisi yang berbeda, jamaah tetap harus menjaga kerukunan bersama.
  • Gunakan kabel listrik panjang yang terdiri dari beberapa colokan stop kontak, agar bisa berbagi listrik dengan jamaah lain
  • Ketika akan ke kamar mandi, kunci tas tenteng, titipkan barang bawaan kepada jamaah yang sudah sangat dikenal, bawalah peralatan mandi serta gayung kecil sendiri, dan bawa kembali ke dalam tenda setelah selesai. Usahakan kalau ke kamar mandi tidak bertepatan dengan waktu jam mandi, antara jam 9 pagi sampai jam 3 sore antrian ke kamar mandi relatip tidak terlalu panjang. Bersabarlah ketika antri, sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar.
  • Selama mabit di Mina, jamaah haji mendapat konsumsi makan 3 kali sehari, jamaah haji juga dapat meminta air panas, kopi atau teh di dapur umum. Ketika waktu makan, jangan berebut dengan jamaah lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.