Tips Ketika Wukuf di Arofah

Tips Ketika Wukuf di Arofah

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila. Wukuf adalah hadir dan berada di daerah mana saja di Arafah, walaupun dalam keadaan tidur, sadar, berkendaraan, duduk, berbaring atau berjalan, baik pula dalam keadaan suci atau tidak suci (seperti haidh, nifas atau junub) (Fiqih Sunnah, 1: 494).

umroh afi prima -tips ketika wukuf di arafah  - umroh dan haji info (2)
umroh afi prima -tips ketika wukuf di arafah – umroh dan haji info (2)

Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling penting. Siapa yang luput dari wukuf di Arafah, hajinya tidak sah. Ibnu Rusyd berkata, “Para ulama sepakat bahwa wukuf di Arafah adalah bagian dari rukun haji dan siapa yang luput, maka harus ada haji pengganti (di tahun yang lain). Al-Hajju Arafat, man ja-a qabla shalat subhi min lailatil jam’i faqad tamma hajjuhu. “Haji itu Arafah, Barangsiapa mendapatkan malam pada hari Arafah sebelum waktu subuh (untuk wuquf), maka sungguh hajinya telah sempurna.” (HR. Tirmizi, no. 889. Nasa’i, no. 3016, redaksi hadits ini bersumber darinya, dishahihkan oleh Syekh Al-Albany rahimahullah dalam shahih Nasa’i).

Waktu Wukuf di Arafah adalah waktu mulai dari matahari tergelincir (waktu zawal) pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu terbit fajar Shubuh (masuk waktu Shubuh) pada hari nahr (10 Dzulhijjah). Jika seseorang wukuf di Arafah selain waktu tersebut, wukufnya tidak sah berdasarkan jumhur ulama (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 17: 49-50). Beberapa ulama berpendapat Wukuf wajib dilakukan hingga matahari telah tenggelam. Madzab Imam Syafi’i berpendapat bahwa wukuf di Arafah hingga malam adalah sunnah (Fiqih Sunnah, 1: 494)

Pada waktu Wukuf di Arafah, berjuta juta jamaah dengan pakaian ihram ditambah ribuan petugas berkumpul di Arofah, sebagian di dalam tenda dan banyak juga yang tidak berada di dalam tenda. Tenda di Arofah merupakan tenda yang didirikan sementara menjelang waktu wukuf, dan dibongkat kembali setelah wukuf selesai, dengan kondisi bahan tenda yang relatip sudah lama dengan alas untuk tidur berupa karpet yang tidak tebal, kadang kasur spon tipis. Agar jamaah haji dapat melaksanakan wukuf dengan sempurna, jamaah perlu persiapan sebelum wukuf, berikut Tips Ketika Wukuf di Arofah yang insya”Allah bermanfaat :

  • Ketika sampai di perkemahan tenda Arofah, tetaplah bersama dengan rombongan dalam satu tenda, setidaknya pilihlah tempat dalam tenda yang bersebelahan dengan sesama jamaah satu kloter. Atur tas tenteng dan barang barang bawaan lainnya, tempatkan di dekat tempat yang akan dipakai untuk istirahat, bisa juga tas tenteng di letakkan untuk bantal ketika tidur, agar lebih aman. Akan lebih baik jika tas tenteng selalu dikunci, dan tas cangklong selalu dibawa.
  • Pada tanggal 9 sejak waktu sholat duhur sampai dengan menjelang waktu subuh, bahkan kadang sampai setelah waktu subuh keesokan harinya, ada kemungkinan jamaah tidak memiliki waktu untuk beristirahat dengan nyaman, karena setelah selesai wukuf jamaah masih harus melanjutkan mabit di Muzdalifah, meolontar jumroh dan mabit di Mina. Jamaah haji harus tetap menjaga kesehatan, gunakan waktu untuk istirahat sebaik baiknya, makan dan minum yang cukup. Ketika tidur, tetap usahakan agar pakaian ihram menutup seluruh aurat
  • Selama berada di Arofah untuk wukuf, jamaah haji akan mendapatkan konsumsi makan 3 kali sehari lengkap dengan minuman dan buah buahan. Jangan berebut untuk mendapatkan makanan, tetaplah sabar, jangan marah, jangan bertengkar, jangan berkata kotor, jangan berbantah bantahan.
  • Fasilitas Kamar Mandi umum di Arofah dibangun sementara dan terkesan seadanya, jumlahnya sangat terbatas dan dipakai oleh banyak jamaah, kadang ada juga jamaah haji yang jorok dan tidak membersihkan kamar mandi setelah selesai hajad. Ketika akan ke kamar mandi, bawalah peralatan mandi serta gayung kecil sendiri, dan bawa kembali ke dalam tenda setelah selesai. Bersabarlah ketika antri, sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar.
  • Selama berada di Arafah, jangan pergi terlalu jauh dari tenda, jangan keluar sendirian terutama jamaah haji perempuan, selalu jaga agar tetap bersama dengan rombongan jamaah haji satu kloter.
  • Akan lebih baik jika jamaah mengetahui jadwal setiap kegiatan kloter selama berada di Arafah, mabit di Muzdalifah dan mabit di Mina serta melontar jumroh di jamarot, agar ketika mulai bergerak menuju ke tempat lain, jamaah haji tidak tertinggal. Tanyakan rencana jadwal kegiatan pada pembimbing atau petugas kloter.
  • Pada tanggal 9 Dzulhijah, setelah sholat subuh, perbanyak berdzikir dan berdo’a sambil menunggu waktu sarapan pagi. Setelah srapan pagi kembali gunakan waktu yang ada untuk beristirahat, sambil menunggu waktu sholat duhur dan wukuf, atau gunakan waktu untuk bermuhasabah
  • Wukuf dimulai setelah sholat dhuhur yang dijamak qashar dengan sholat ashar berjamaah dengan seluruh jamaah haji satu kloter, dilanjutkan dengan membaca dzikir, istighfar, mendengarkan hotbah wukuf dan berdo’a. Renungkan kembali perjalanan hidup, dosa dosa yang pernah dilakukan, dan bermunajat memohon ampun kepada Allah SWT.
  • Saat masuk waktu sholat mahgrib, kerjakan dengan berjamaah yang dijamak qashar dengan sholat isyak. Sholat jamak qashar adalah sholat dua waktu (dhuhur dengan ashar, atau mahgrib dengan isya’, masing masing dua rakaat, satu kali adzan dan dua kali iqamat)
  • Setelah sholat jamak qashar mahgrib dan isya’, jamaah akan diberangkatkan dengan bus yang telah disiapkan oleh penyelenggara/ muasyasah, menuju Muzdalifah. Siapkan semua barang barang bawaan, masukkan kembali ke dalam tas tenteng, jangan lupa tas cangklong dibawa, bawa sedikit bekal makanan atau camilan dan minuman untuk mabit di Muzdalifah, karena selama mabit di Muzdalifah, jamaah haji biasanya tidak mendapatkan konsumsi apapun dari penyelenggara.
  • Jamaah haji harus tetap dalam keadaan berihram selama berada di Arofah sampai dengan selesai melontar jumroh aqobah atau thawaf ifadah dan tahallul. Walaupun udara malam sangat dingin, jamaah haji pria tidak boleh memakai selimut, tidak boleh memakai jaket, tidak boleh memakai tutup kepala kopiyah atau sorban, tidak boleh memakai tutup telinga, sedang jamaah haji perempuan boleh memakai tutup kepala, jaket dan selimut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.