Sejarah Kemurnian Al Quran

Sejarah Kemurnian Al Quran

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila.
Seluruh tulisan ini bersumber dari kitab AL QUR’AN DAN TERJEMAHNYA Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mush-haf Asy-Syarif Madinah Al Munawarah – Arab Saudi.

Sejarah Kemurnian Al Quran sebagaimana tertulis dalam kitab al Qu’an dan Terjemahnya yang diterbitkan dan dicetak oleh Mujamma’ Al Malik Fahd Li Thiba’at Al Mushhaf Asy-Syarif Madinah Al Munawarah, diriwayatkan bahwa pada zaman nabi Muhammad menerima wahyu di Mekkah dan di Madinah dari wahyu yang pertama sampai yang terakhir yang diturunkan ketika Rasul wukuf di padang arofah saat melaksanakan haji wada’, penduduk di jazirah arab hanya sedikit yang bisa menulis dan membaca tulisan, serta belum mengenal kertas.

Setiap Rasulullah menerima wahyu, beliau menyampaikan kepada para sahabatnya, dan selalu memintanya untuk menghafal, selalu membacanya dan dibaca pada waktu sholat, sehingga banyaklah ummat islam yang hafal beberapa ayat ayat, beberapa surat, bahkan juga banyak yang hafal seluruh isi al qur’an. Rasulullah sering mengulang bacaan al Qur’an yang disaksikan oleh malaikat jibril, demikian pula para penghafal al Qur’an saat itu sering diminta untuk membacanya di depan Rasul, dengan demikian kemurnian al Qur’an tetap terus terjaga.

Beberapa sahabat yang lain menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah tamar, dan media lain yang ada saat itu. Rasulullah selalu meminta beberapa sahabat yang bisa membaca, untuk membacanya sehingga Rasulullah tahu dan yakin bahwa tulisan tersebut benar adanya dan sama persis dengan wahyu yang diterimanya. Rasulullah melarang menulis selain wahyu yang diterimanya, hadist dan pelajaran pelajaran lain yang diucapkan Rasul tidak boleh ditulis saat itu, hal ini agar wahyu yang diterima Rasul tidak tercampur dengan yang bukan wahyu.

Setelah Rasulullah wafat, pada zaman khalifah Abu bakar terjadi perang Yamamah antara pasukan Islam dan kaum murtad. Sekitar 70 penghafal Al Qur’an gugur dalam peperangan itu, sehingga setelah peperangan usai, Umar bin Khatab menyampaikan kehkawatirannya akan gugurnya para penghafal al Qur’an zaman itu, dan mengusulkan kepada khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh ayat ayat al Qur’an.

Awalnya khalifah Abu Bakar keberatan dengan menjawab “Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh rasulullah ?” . Umar bin Khatab memberikan pandangan kebaikan mengumpulkan al Qur’an untuk menjaga kemurniannya, “demi Allah ini adalah perbuatan yang baik”. Setelah Abu Bakar yakin bahwa itu memiliki kebaikan untuk menjaga kemurnian al Qur’an, kemudian Khalifah Abu Bakar meminta zaid bin Tsabit, sahabat terpercaya dan penghafal al Qur’an untuk menuliskan seluruh ayat ayat al Qur’an di pelepah daun. Setelah selesai menulis, Zaid bin Tsabit mencocokkan tulisannya tersebut dengan cara meminta beberapa sahabat yang lain untuk membacanya dengan disaksikan oleh beberapa sahabat yang hafal al Qur’an.

Setelah seluruh ayat ayat al Qur’an yang ditulis oleh Zaid bin Tsabit dinyatakan kebenarannya tanpa ada sedikitpun kesalahan, kemudian diikat menjadi satu dengan susunan ayat ayat sesuai dengan menurut urutan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Rasulullah, kemudian diserahkan kepada khalifah Abu Bakar. Mushaf tersebut disimpan di rumah Abu Bakar selama masa pemerintahannya. Setelah Abu Bakar wafat, Mushaf tersebut disimpan di rumah Umar bin Khatab. setelah Umar bin Khatab wafat kemudian disimpan di rumah Hafsah putri Umar bin Khatab yang juga istri Nabi, sampai masa pengumpulan dan penyusunan di masa khalifah Ustman bin Affan.

Pemerintahan khalifah Ustman bin Affan saat itu telah mencapai wilayah di sebelah timur sudah sampai wilayah Armenia dan azarbaiyan, dan di sebelah barat sampai wilayah Tripoli, kaum muslim sudah tersebar sampai Mesir, Syria, Persia dan Afrika, dan banyak diantara meraka yang hafal al qur’an. Kitab Al Qur’an juga telah banyak ditulis dan dimiliki oleh muslim di berbagai wilayah, namun beberapa kitab yang tersebar ada yang tidak sama susunan surat – suratnya dengan mushaf Ustmani.

Begitu juga ada beberapa perbedaan bunyi bacaan al Qur’an karena adanya perbedaan dialek bahasa antara satu wilayah dengan wilayah yang lain. Dalam Sejarah Kemurnian Al Quran, awalnya Rasululullah sendiri pada masa beliau masih hidup, memang memberikan kelonggaran kepada kabilah kabilah Arab untuk membaca dan melafadzkan bunyi ayat ayat al Qur’an menurut lahjah (dialek) mereka masing masing.

Pada zaman pemerintahan khalifah Ustman bin Affan, Huzaifah mengkhawatirkan perbedaan bacaan ini akan dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan ummat Islam’ Kekhawatiran tersebut timbul ketika dia mendengar pertikaian tentang bacaan beberapa ayat al Qur’an. Ketika dia kembali ke Madinah, segera menemui khalifah Ustman bin Affan untuk menyampaikan kekhawatirannya.

Kemudian khalifah Ustman bin Affan meminta lembaran lembaran al Qur’an yang disimpan Hafsah binti Umar, lembaran lembaran al Qur’an yang ditulis dimasa khalifah Abu Bakar kemudian disalin dalam bentuk buku menggunakan kertas. Tim panitia untuk menuliskan al Qur’an dalam bentuk buku itu terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurahman bin Harits bin Hisyam.

Dalam tugas menyalin buku kitab al Qur’an tersebut, Ustman bin Affan menasehatkan kepada tim panitia untuk berpedoman pada bunyi bacaan mereka yang hafal al Qur’an, dan apabila terdapat perbedaan bahasa (dialek), diminta untuk ditulis menurut dialek suku Qurays. Kitab al Qur’an yang ditulis tersebut dikenal dengan nama “Mushaf al Imam” dan tetap disimpan di Madinah.

Ustman bin Affan kemudian dibuatkan 4 kitab salinannya yang dikirim ke Mekkah, Syria, Basrah dan Kufah untuk selanjutnya dibuatkan salinannya dimasing masing tempat. Kemudian Ustman memerintahkan untuk mengumpulkan seluruh lembaran lembaran al Qur”an yang ditulis oleh beberapa orang di berbagai wilayah yang tidak sama dengan mushaf al imam, dan membakarnya.

Sampai sekarang, salinan berdasarkan Mushaf al Qur’an yang ditulis oleh tim panitia zaman khalifah Ustman itulah yang dipakai oleh seluruh kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Di percetakan Mushaf Al Qur’an saat ini telah dicetak puluhan juta salinan al Qur’an dan disebarkan ke seluruh dunia, sebagian dilengkapi dengan terjemahan dalam berbagai bahasa. Jamaah umroh dan haji yang berkunjung ziarah ke komplek percetakan Mushaf Al Qur’an di Madinah, biasanya akan diberi hadiah satu kitab al Qur’an.

Perbedaan bunyi bacaan itu sampai sekarang juga masih ada, karena bacaan yang dirawikan dengan mutawatir dari Nabi Muhammad terus dipakai oleh kaum muslim, dan bacaan bacaan tersebut tidak berlawanan dengan apa yang ditulis dalam Mushaf yang ditulis di masa Ustman bin Affan.

Catatan penulis
Menurut riwayat, Mushaf al Imam yang ditulis di zaman pemerintahan khalifah Ustman, awalnya berupa tulisan yang tidak memiliki tanda baca (harakat), dan belum memiliki tanda titik (syakal) untuk membedakan huruf ba, ta, tsa, nun, syin, sin, shad, tho’ dan huruf huruf lainnya. Pemberian tanda baca (syakal) berupa titik baru mulai dilakukan ketika Dinasti Umayyah memegang tampuk kekuasaan kekhalifahan Islam. Baru kemudian, pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa dhamah, fathah, kasrah, sukun, hamzah, tasydid, dan ismam untuk memudahkan umat Islam dalam membaca Alquran.

Selanjutnya penulisan Mushaf al Qur’an dalam perkembangannya juga dibubuhi tanda baca tajwid isymam, rum, dan mad serta lingkaran bulat sebagai pemisah ayat dan mencantumkan nomor ayat, wakaf (berhenti membaca), ibtida (memulai membaca), tajzi’, yaitu tanda pemisah antara satu Juz dan yang lainnya, berupa kata ‘juz’ dan diikuti dengan penomorannya dan tanda untuk menunjukkan isi yang berupa seperempat, seperlima, sepersepuluh, setengah juz, dan juz itu sendiri.

Pemberian tanda baca dalam penulisan al Qur’an itu bukanlah bid’ah, meskipun tidak pernah dilakukan dan tidak pernah dicontohkan pada masa zaman Rasulullah, tapi merupakan karunia Allah SWT berupa kreatifitas manusia untuk menjaga kemurnian al Qur’an.
“Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya” (Q.S Al-Hijr ayat 9)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.