Menggapai Haji Mabrur

Menggapai Haji Mabrur

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila. Pada waktu melaksanakan ibadah haji, umumnya jamaah tidak melakukan banyak pekerjaan sehari hari yang biasanya dilakukan, sehingga jamaah semestinya dapat fokus untuk melaksanakan ibadah selama di tanah suci. Namun jamaah haji perlu menyiapkan bekal mental ikhlas, sabar dan tawaqal, “sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (Q.S. Al-Baqarah: 197), agar menjadi haji yang mabbrur. Mabrur berasal dari kata “birru” artinya baik. Haji mabrur adalah haji yang menyebabkan perilakunya menjadi orang yang senantiasa berbuat baik, bukan pribadi yang ditolak Allah. .

Pada tanggal 8 sampai 12 Dzulhijah jamaah haji berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, bersama dengan sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia. Kamar mandi dan toilet yang tersedia sangat terbatas. Pagi dan sore antrian panjang jamaah yang akan mandi, dengan waktu tunggu sekitar setengah jam. Kadang ada pengguna toilet yang terbiasa jorok kloset tidak disiram. Kondisi ini merupakan salah satu ujian jamaah haji, agar tetap sabar. Dengan menyiram kloset, kita dapat hajat dengan lebih nyaman dan ini merupakan ekspresi haji mabbrur dengan berbuat baik untuk orang lain, pengguna kamar mandi dan toilet berikutnya akan nyaman berkat sentuhan haji mabrur. “…… dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya……” (Q.S. Al-Baqarah: 197)

Godaan syetan sangat besar, apa pun dapat menyebabkan tekanan jiwa, stress dan dapat menyebabkan emosi yang meletup letup. Tidak hanya jamaah haji yang menggunakan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) biasa, jamaah haji yang menggunakan ongkos naik haji (ONH) plus pun tidak lepas dari godaan syetan. Pelayanan hotel berbintang lima yang seharusnya prima dan berstandar internasioal, di bulan haji saat waktu shalat, semua jamaah haji bersiap menuju Masjidil haram. Semua orang menggunakan kamar mandi untuk bersuci, dan tidak mustahil, tiba-tiba air habis.

Meskipun hotel berbintang lima, lift pun bisa macet setidaknya amat lambat karena pada saat berbarengan dalam waktu yang sama, semua jamaah haji hendak turun dari hotel menggunakan lift, setiap lantai ada jamaah yang juga antri menggunakan lift. Setiap kali pintu lift membuka, lift sudah penuh sesak, jika masih ada tempat, jamaah tergoda untuk saling berebut masuk ke dalam lift yang dapat menyebabkan emosi memuncak yang disertai ungkapan kemarahan dengan kalimat kotor dan pertengkaran. Untuk menghindari antrian dan emosi karena saling berebut menggunakan lift, saat lift penuh dan berjalan lambat, ada baiknya jika berjalan kaki melewati tangga darurat, selain bisa lebih cepat juga sehat.

Allah SWT berfiman dalam Alquran Surat Al-Baqarah: 197, “….. barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik dan tidak boleh berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji….” merupakan sejumlah kata kunci berkaitan dengan upaya Menggapai Haji Mabrur, yaitu “jangan rafats”, “jangan berbuat fasik”, “jangan berbantah-bantahan”.

Larangan pertama tidak boleh Rafats adalah berbagai perbuatan yang mengarah kepada hubungan seksual maupun yang mengarah pada hubungan intim saat mengenakan kain ihram, jamaah umroh dan haji tidak boleh melamar atau meminang, tidak boleh melakukan hubungan seksual dengan istri/suami, apalagi dengan pasangan bukan muhrim, tidak boleh melihat yang berkaitan dengan pornografi, bacaan cabul, berkata kotor, dan sebagainya. Jamaah umroh dan haji suami-istri boleh melakukan hubungan intim saat tidak sedang dalam keadaan berihram.

Larangan kedua tidak boleh berbuat fasik, yaitu larangan perbuatan dosa, melanggar semua larangan agama, seperti mencuri, mencopet, membunuh, berjudi, korupsi, menipu, berbohong, bersaksi palsu, riya’, menyakiti orang lain, membicarakan kejelekan orang lain, murtad, musrik, munafik, dan perbuatan dosa dosa lainnya. Sedang Larangan ketiga adalah tidak boleh berbantah-bantahan, memaki, dan marah, bertengkar, mengucapkan kata kata yang menyinggung perasaan orang lain.

Haji yang mabrur adalah ketika ia pulang dari ibadah haji menjadi orang yang zuhud dalam kehidupan dunia dan cinta akhirat. “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia”. (Surat Al-Qashash: 77).

Zuhud bukan berarti orang yang hanya beribadah di masjid dan tidak mau bekerja mencari harta untuk nafkah keluarga tapi orang yang zuhud adalah orang yang tidak diperbudak oleh harta dunia. Aktifitasnya dalam kehidupan dunia tidak melalaikannya dari ingat kepada Allah, melaksanakan shalat fardu lima waktu tepat pada waktunya, berpuasa di bulan romadhon, membayar zakat fitrah dan zakat harta, tidak memutuskan silaturahmi, tetap rajin mempelajari ilmu islam lalu mengamalkan dan menyampaikannya, tidak melupakan tanggung jawab mendidik keluarga, Dalam mencari nafkah tidak riba, suap, korupsi, mencuri, judi, pungli, memeras, menipu, memakan hak orang lain.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا

“Allahummaj’al hajjan mabruron, wa sa’yan masykuron, wa dzanban maghfuron [Semoga Allah menganugerahkan haji yang mabrur, usaha yang disyukuri dan dosa yang diampuni”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.