Masjidil Haram di Mekah Al-Mukarromah

Masjidil Haram di Mekah Al-Mukarromah

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila. Masjidil Harom di Mekah al-mukarromah merupakan masjid suci yang paling besar, dan paling didambakan oleh ummat Islam, untuk dapat mengunjunginya melaksanakan ibadah umroh dan haji. Menurut hadits shahih, satu kali salat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.

umroh afi prima - Masjidil Harom - umroh dan haji info
umroh afi prima – Masjidil Harom – umroh dan haji info
umroh afi prima - Masjidil-Harom-umroh dan haji info
umroh afi prima – Masjidil-Harom-umroh dan haji info

Letaknya dilembah kering 330 meter dari permukaan laut, yang dikelilingi pegunungan batu. Didalam masjid ini terdapat ka’bah/ baitullah, sebuah bangunan batu persegi, yang masing masing sisinya memiliki panjang yang berbeda. panjang sisi sebelah utara 9.92 meter, sisi sebelah barat 12.15 meter, sisi sebelah selatan 25.10 meter, dan sisi sebelah timur 11.88 meter.

Masjidil Harom di Mekah al-mukarromah sejak awal berdirinya samoai dengan recana pembangunan besar besaran saat ini, memiliki ukuran dan bentuk yang tidak simetris. Sisi bangunan bagian utara tidak sama dengan selatan, demikian pula sisi bangunan bagian timur dan barat, juga tidak sama.

Hal ini merupakan perumpamaan filosofi ukhuwah islam, bahwa jamaah yang datang dari berbagai penjuru, berbeda negara, berbeda bahasa, berbeda budaya, berbeda warna, berbeda mazhab, pada hakekatnya adalah sama, satu tujuan, lillahi ta’ala.

Menurut riwayat, awalnya Masjidil Harom adalah masjid yang dibangun pertama kali oleh para malaikat jauh sebelum penciptaan umat manusia, saat itu Allah SWT mentahbiskan sebuah tempat di muka bumi untuk merefleksikan rumah di surga yang bernama Baitul Ma’mur (Arab:

البيت المعمور

“The Worship Place of Angels”, “Tempat Bersembahyang Para Malaikat”).

إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركاً وهدى للعالمين

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS. Ali Imran: 96)

Kemudian setelah lebih seribu tahun, Nabi Ibrahim bersama dengan anaknya, Nabi Ismail diperintah oleh Allah untuk membangun / memperbaiki kembali masjid tersebut, dan meninggikan dasar Ka’ba.

وإذا يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل (سورة البقرة

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail “. (QS. Al Baqarah: 127)

Selesai dibangun, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyeru umat manusia berziarah ke Ka’bah yang didaulat sebagai Baitullah. Dari sinilah, awal mula haji, ibadah akbar umat Islam di seluruh dunia.

Ka’bah pernah akan dihancurkan oleh raja Abrahah al Habasyi bersama pasukan gajahnya, agar para jama’ah haji tidak ke Baitullah, tetapi berbondong-bondong ke “Al Qullais” sebuah tempat ibadah yang dibangun Abrahah.

Tetapi sesampainya mereka dipinggiran Makkah, Allah –Ta’ala- mengirimkan sekelompok burung Ababil yang masing-masing membawa tiga batu kecil, satu di paruhnya, dan dua lagi di kakinya. Tidaklah ada tentara Abrahah yang terkena batu tersebut kecuali akan binasa sesuai dengan ketentuan Allah –Azza wa Jalla- sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an:

ألم تر كيف فعل ربك بأصحاب الفيل
ألم يجعل كيدهم في تضليل
وأرسل عليهم طيراً أبابيل
ترميهم بحجارة من سجيل
فجعلهم كعصف مأكول

“ Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?, Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia?, Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. (QS. al Fiil: 1-5)

Pada abad ke tujuh, ketika Muhammad belum diangkat menjadi rasulullah, ka’bah diperbaiki oleh kaum Quraisy. Perselisihan muncul di antara keluarga-keluarga kaum Quraisy mengenai siapakah yang pantas memasang kembali Hajar Aswad ke tempatnya di Ka’bah.

Dalam sebuah kisah yang terkenal, Rasulullah meminta keempat suku untuk mengangkat Hajar Aswad secara bersama dengan menggunakan kain sorbannya, masing masing suku mengangkat ujung sorban, sehingga Rasulullah berhasil menghindarkan perpecahan dan pertumpahan darah di kalangan bangsa Arab.

Selanjutnya perluasan Masjidil Harom dimulai pada tahun 638 sewaktu khalifah Umar bin Khattab, dengan membeli rumah-rumah di sekeliling Ka’bah dan diruntuhkan untuk tujuan perluasan, dan kemudian dilanjutkan lagi pada masa khalifah Usman bin Affan sekitar tahun 647 M.

Masjidil Harom modern dimulai saat renovasi tahun 1570 pada kepemimpinan Sultan Selim. Arsitektur tahun inilah yang kemudian dipertahankan oleh kerajaan Arab Saudi hingga saat ini.

Saat ini, pada masa kepemimpinan Raja Abdullah bin Abdul-Aziz, renovasi keempat tengah dilakukan hingga tahun 2020. Rencananya, Masjidil Harom akan diperluas hingga 35 persen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.