Mabit di Mina

Mabit di Mina

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila. Mina merupakan lembah di padang pasir antara Mekkah dan Muzdalifah yang letaknya sekitar 5 kilometer dari kota Mekkah, Arab Saudi, dan masih dalam kawasan tanah haram. Mina digunakan sebagai tempat Mabit pada hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13 Dzulhuijjah)

tenda mina tempat jamaah mabit
Mina juga dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lempar jumrah dalam ibadah haji

Mina mendapat julukan kota tenda, karena berisi tenda-tenda untuk jutaan jamaah haji seluruh dunia. Tenda-tenda itu tetap berdiri meski musim haji tidak berlangsung.

Ketentuan Mabit di Mina adalah keberadaan jamaah haji di Mina lebih dari separuh malam. Bagi jamaah haji yang melaksanakan Nafar Awal(bermalam) yaitu malam tanggal 11,12 Dzulhijah , dan bagi jamaah yang melaksanakan Nafar Tsani bermalam pada malam tanggal 11,12,13 dzulhijah

Mina juga dikenal sebagai tempat dilaksanakannya kegiatan lontar jumrah dalam ibadah haji, yaitu Jumrah Aqabah, Jumrah ula dan Jumrah Wusta. Perjalanan dari tenda Mina ke tempat jamarot melewati terowongan Mina.

Beberapa ulama ada yang berpendapat bahwa sehari sebelum wukuf di arafah, jamaah haji Mabit di Mina terlebih dahulu. Mina didatangi oleh jamaah haji pada tanggal 8 Dzulhijah atau sehari sebelum wukuf di Arafah. Jamaah haji tinggal di sini sehari semalam sehingga dapat melakukan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh.

Kemudian setelah sholat Subuh tanggal 9 Dzulhijah, jamaah haji berangkat ke Arafah. Amalan seperti ini dilakukan Rasulullah SAW saat berhaji dan hukumnya sunnah. Artinya tanggal 9 Dzulhijah sebelum ke Arafah, tidak wajib bermalam di Mina.

Sedang jamaah haji asal Indonesia, biasanya dari Mekah langsung menuju Arafah, dan menginap di tenda tenda yang disediakan oleh muasasyah di Arafah, sehari kemudian setelah menjalankan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijah setelah sholat qashar mahgrib dan isya’, baru diberangkatkan untuk Mabit di Muzdalifah, selanjutnya diberangkatkan ke Mina setelah melewati tengah malam atau setelah masuk tanggal 10 Dzulhijah (hari raya idul adha)

Pada tanggal 10 Dzulhijah, jamaah haji wajib melontar jumroh aqobah dengan 7 kerikil kecil di jamarot (ada ulama yang berpendapat bisa diwakilkan jika sakit). Setelah melempar jumroh aqobah, jamaah bisa melaksanakan tahallul awal dengan memotong rambut. Jamaah haji sudah diperbolehkan berganti pakaian biasa, tetapi larangan ihram tetap tidak boleh dilanggar, termasuk berkumpul antara suami istri. Apabila memungkinkan, setelah melempar jumroh aqobah, jamaah haji dapat ke Masjidil Harom untuk melaksanakan thawaf ifadhah mengelilingi kakbah/ baitullah, sa’i antara bukit shofa dan Marwa, serta menyempurnakan tahallul.

Pada malam harinya jamaah haji wajib mabit menginap di Mina atau berada di Mina pada tanggal 10 dan 11 Dzulhijah malam, setidaknya sebelum waktu sholat mahgrib sampai setengah malam. Pada tanggal 11 Dzulhijah jamaah haji wajib melontar jumroh ula, wustha dan aqobah yang dapat dilakukan pada pagi hari, siang, sore atau malam hari. Selanjutnya pada tanggal 12 Dzulhijah jamaah haji juga wajib melontar jumroh ula, wustha dan aqobah. Setelah selesai jamaah haji yang berniat untuk nafar awal, sudah boleh meninggalkan Mina.

Jamaah haji yang berniat untuk nafar awal tidak perlu menginap di Mina pada tanggal 12 malam, jamaah haji bisa meninggalkan Mina sebelum masuk waktu sholat mahgrib. “Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya” [Al-Baqarah : 203]. Jika sudah masuk waktu sholat mahgrib, jamaah haji harus tetap menginap pada tanggal 12 Dzulhijah malam sebagaimana yang berniat untuk nafar tsani, dan baru boleh meninggalkan Mina jika sudah melontar jumroh ula, wustha dan aqobah pada tanggal 13 Dzulhijah.

Mabit di Mina wajib dilaksanakan jamaah haji laki-laki maupun perempuan pada setiap malam atau setidaknya separuh malam pada tanggal 10 sampai 12 Dzulhijjah. Jamaah haji yang meninggalkannya tanpa alasan syar’i wajib menyembelih/ membayar DAM/ denda seekor kambing/ domba. “Barangsiapa yang meninggalkan satu ibadah (dalam haji) atau lupa darinya, maka dia wajib menyembelih kurban” [Hadits Riwayat Malik]

Di Mina ada masjid Khaif, masjid tempat Rasulullah SAW melakukan shalat dan khutbah ketika berada di Mina saat melaksanakan ibadah Haji. Mina juga merupakan tempat atau lokasi penyembelihan binatang kurban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.