Hajar Aswad di Baitullah Mekkah

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila. Hajar Aswad (Arab:حجر أسود) atau Hajarul Aswad terletak di salah satu sudut Kabah/ Baitullah, dekat dengan posisi pintu Kabah, sebuah batu yang diriwayatkan berasal dari surga,

umroh afi prima -  hajar aswad -umroh dan haji info

umroh afi prima – hajar aswad -umroh dan haji info

Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, sejak sebelum berdirinya peradaban Islam. Jamaah umroh dan haji banyak yang berusaha mendekat, memegang, dan menciumnya, meskipun tidak ada kewajiban untuk melakukannya.

Umar bin Al-Khattab berkata, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberi madharat maupun manfaat. Kalalulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu aku pun tidak akan melakukannya”

Oleh karena itu disarankan kepada jamaah umroh dan haji, apabila sekitar tempat thawaf dekat hajar aswad sedang sangat ramai dan padat, agar menunda atau mengurungkan niatnya untuk mencium hajar aswad. Dosa jika sampai menyakiti orang lain, ketika berebut memaksakan diri untuk melakukannya.

Hajar Aswad merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Kabah yang berada di dalam Masjidil Harom, dan menjadi tanda awal dan akhir ibadah thawaf. Jamaah umroh dan haji yang melaksanakan thawaf, harus memulai dari tempat yang sejajar dengan hajar aswad, demikian pula setiap akhir putaran thawaf, harus di tempat yang sejajar dengan hajar aswad.

Menurut riwayat, ketika nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk membangun kembali Kabah/ baitullah, Nabi Ibrahim menyuruh anaknya Nabi Ismail untuk mencari batu di bukit. Sesampainya di bukit, malaikat Jibril datang menghampiri dan membawakan batu dari sorga.

Dahulu kala batu ini awalnya memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam.

Pada sekitar lima tahun sebelum Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul, yakni ketika beliau berumur 35 tahun, diadakan pemugaran Ka’bah karena adanya beberapa kerusakan. Pemugaran tersebut diadakan berdasarkan kesepakatan para pemuka kabilah suku Quraisy yang ada di Kota Makkah.

Namun saat itu terjadi perselisihan yang hampir saja mengakibatkan pertumpahan darah di antara sesama masyarakat Quraisy, ketika akan menetapkan siapa yang berhak menempatkan kembali Hajar Aswad pada posisinya semula. Masing-masing tokoh Quraisy merasa paling berhak.

Untuk menghindari pertumpahan darah, para tokoh Quraisy sepakat untuk menunjuk seseorang yang paling bisa dipercaya sebagai pengadil hakim yang memutuskan. Pilihan tersebut, ternyata jatuh pada Nabi Muhammad Saw, yang saat itu memang sudah dikenal dengan sebutan al-amien ( yang bisa dipercaya )

Rasulullah Saw dengan bijak membentangkan kain sorbannya, kemudian dia mengambil hajar Aswad dan menaruhnya dalam kain itu dengan tangannya. Lalu dia berkata, ” Hendaklah setiap qabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”.

Masing-masing tokoh Quraisy itu merasa lega, karena semuanya mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengembalikan hajar aswad ketempatnya. Mereka lalu mengangkatnya, dan ketika telah sampai di tempatnya, Rasulullah menaruhnya sendiri dengan tangannya.

Wallahu a`lam bish-shawab,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.