Denda Dam dan Qurban

UMROH AFI PRIMA, Amanah Fadzila.
Dalam agama Islam dikenal istilah ibadah untuk melaksanakan Denda Dam dan Qurban serta Aqiqah yang secara syar’i memiliki kesamaan dan perbedaan pelaksanaannya. Menurut syar’i, denda DAM adalah suatu denda (bukan qurban) yang harus dibayar oleh seseorang jamaah umroh dan haji karena sesuatu hal di tanah suci Mekah. Baca juga Denda Dam Jamaah Umroh dan Haji.

denda dam dan qurban serta aqiqah - umroh afi prima

denda dam dan qurban serta aqiqah – umroh afi prima

AQIQAH menurut jumhur ulama merupakan salah satu sunnah muakadah bagi orang tua (beberapa yang lain mewajibkannya) dengan menyembelih kambing/ domba sehubungan dengan kelahiran seorang anak, (dua kambing/domba untuk anak laki-laki dan satu kambing/domba untuk anak perempuan) dan kemudian mencukur / memotong sebagian rambut anak sebagaimana disunnahkan oleh Rasulullah. Pelaksanaan aqiqah itu lebih utama daripada bershadaqah dengan uang seharga kambing aqiqah, karena pada aqiqah terdapat padanya pahala shadaqah dan wujud rasa syukur dan penebusan (karena bayi yang baru lahir ibarat sesuatu yang tergadaikan yang ditebus dengan aqiqah). Menurut beberapa pendapat, jika seseorang mampu untuk menyembelih kambing/domba aqiqah untuk kelahiran anaknya pada hari ketujuh, maka sebaiknya ia menyembelihnya pada hari tersebut. Namun jika ia tidak mampu pada hari tersebut, maka boleh baginya untuk menyembelihnya pada waktu kapan saja.

QURBAN adalah mengiklaskan binatang ternak (onta, sapi, kambing atau domba) miliknya sendiri yang disembelih dengan niat ibadah qurban menjalankan perintah Allah, yang bisa dilaksanakan mulai dari hari raya idul adha 10 Dzulhijah, sebaiknya setelah melaksanakan shalat idhul adha sampai tenggelamnya matahari di akhir hari tasyrik yaitu tanggal 13 Dzulhijah, untuk dibagikan kepada orang-orang yang sengsara faqir miskin/ dhuafa, bukan untuk dimakan sendiri kecuali sedikit saja.

Menurut Imam syafi’i menyembelih hewan qurban adalah sunnah muakadah bagi muslim, yang mampu, baligh dan berakal, kecuali kalau berqurban itu sudah dinadzarkan sebelumnya, maka status hukumnya menjadi wajib. Perintah untuk berqurban ini terdapat dalam al Qur’an surah al-Kautsar ayat 2 “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah” .

Berqurban tidak sama dengan sekedar menyembelih hewan an’am, berqurban adalah mengiklaskan hewan an’am miliknya sendiri untuk disembelih, bukan menyembelihkan hewan an’am milik orang lain, karena qurban merupakan ibadah yang muqayyadah, pelaksanaannya diatur dengan syarat dan rukun. Rukun penyembelihan qurban ada 4, yaitu 1. Dzabhu (pekerjaan menyembelih), 2. Dzabih (orang yang menyembelih), 3. Hewan yang disembelih, 4. Alat untuk menyembelih berupa sesuatu yang tajam yang bisa melukai, selain tulang belulang

Syarat Hewan yang sah untuk dijadikan qurban menurut ijtima’ jumhur ulama hanya meliputi an’am saja yaitu sapi, kerbau, onta, domba, atau kambing dengan syarat antara lain :

  • Hewan tidak cacat seperti rusak matanya, sakit, pincang, kurus, gila, buta, sekarat dan tidak berdaya. Jika hanya kehilangan tanduk, tetap diperbolehkan sepanjang tidak merusak daging.
  • Hewan telah mencapai umur tertentu, onta umur minimal 5 tahun, Sapi umur minimal 2 tahun, Kambing domba umur minimal 1 tahun atau telah berganti gigi (poel), kambing kacang (al-Ma’z) paling tidak sudah berumur 2 tahun.
  • Qurban satu ekor kambing/ domba hanya dapat mencukupi untuk qurban bagi satu keluarga saja (Iqna’), jadi tidak diperbolehkan dua atau beberapa keluarga menggabungkan uangnya lantas dibelikan satu kambing/ domba untuk berqurban secara kolektif dengan hanya satu kambing/ domba tersebut.
  • Qurban dengan satu ekor sapi atau onta boleh dipikul dan dilakukan secara kolektif berkelompok untuk tujuh keluarga, juga boleh untuk satu keluarga saja
  • Tidak memotong kuku maupun bulu hewan qurban sejak awal bulan Dzulhijjah, cukup dibersihkan. dimandikan saja
  • Dianjurkan untuk mengikat hewan qurban di halaman rumah beberapa hari menjelang idhul Adha sebagai syi’ar
  • Jika disembelihkan kepada orang lain, dianjurkan untuk menghadiri tempat penyembelihan qurbannya, menghadap ke arah kiblat sambil membaca basmallah, takbir 3 kali, sholawat kepada nabi dan berdo’a
  • Syarat dalam pekerjaan menyembelih adalah membaca basmallah, memotong hulqum (jalan nafas) dan mari’ (jalan makanan). Disunnahkan memotong wadajain (dua otot yang ada disamping kanan dan kiri) dengan menggunakan alat penyembelih yang sangat tajam, orang yang menyembelih adalah muslim. Dimakruhkan sembelihannya orang yang buta, anak yang belum tamyiz dan orang yang mabuk/ hilang ingatan
  • Boleh bahkan disunahkan untuk ikut memakan sedikit saja daging qurbannya, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an “Dan makanlah sebagian (sedikit saja) dari padanya (an’am) dan (sebagian lainnya) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi faqir” (Al-Hajj: 28)
  • Prinsipnya qurban adalah sedekah yang diperuntukkan bagi kaum dhuafa’, fakir, miskin secara cuma-cuma. Dalam kitab Iqna’ disebutkan bahwa yang berqurban tidak diperkenankan menjual sesuatu bagian dari hewan qurban, termasuk tidak boleh menjual kulitnya
  • Daging qurban disyaratkan untuk dibagikan kepada kaum dhuafa’, fakir, miskin dalam keadaan masih mentah atau tidak berupa masakan. Ketentuan ini bertujuan agar fakir miskin dapat secara bebas mentasharufkannya (memanfaatkannya) sesuai untuk keperluannya. Beberapa ulama memperbolehkan sebagian dihadiahkan (bukan disodaqohkan) kepada saudara, teman dan tetangga

Wallahu A’lam Bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.